Maret 2018.
Di depan laptop ini saya ingin menyampaikan sesuatu yang
begitu mengusik hati. Entah mengapa, semua prasangka dan perasaan yang
menyertainya akan membuat hati semakin tidak karuan. Manusia, manusia, dan
manusia. Mulai memunculkan keegoisannya, keangkuhannya, kerasisannya, dan
keenakannya menikmati teknologi serta kemudahan sekarang.
Coba lihat, kecanggihan teknologi dulu tidak bisa semudah
sekarang diterima. Orang-orang harus mendengar cerita dari satu mulut ke mulut yang lain untuk mempercayai
kecanggihannya. Namun, apa yang terjadi sekarang? Semua orang sudah melek teknologi. Perusahaan mulai
besar-besaran meng-update sistemnya.
Lalu yang terjadi adalah ketertinggalan bagi mereka yang masih belum bisa
menerima atau tidak bisa berlari dengan cepat mengikuti teknologi.
Awalnya, teknologi terlihat mudah. Ketika handphone monokrom berganti dengan handphone
warna-warni. Kamera depan dan kamera belakang dalam satu handphone yang sama. Infrared lenyap digantikan Bluetooth, dan
sekarang mulai tergerus karena kemudahan yang ditawarkan oleh media sosial yang
sanggup mengirimkan berbagai macam jenis file yang tidak memandang jarak. Lalu apa
hubungannya dengan sikap-sikap manusia saat ini?
Tidak semua orang bisa dikategorikan atau mencakup dalam
opini yang saya tuliskan detik ini. Suatu hari, kecanggihan teknologi berhasil
membuat saya terheran-heran. Manusia-manusia dengan mudah mendapatkan makanan,
tanpa membeli langsung dari tempatnya. Manusia dengan mudah membelanjakan
uangnya di online shop. Raksasa-raksasa
e-commerce mulai mengambil alih pasar
dari satu negara ke negara lainnya. Sungguh, fenomena discruption ini sangat luar biasa. Manusia berhasil mengembangkan
diri dan teknologi menjadi sesuatu yang rumit yang tadinya tidak pernah
terpikirkan sama sekali.
“Lalu apa yang salah?”
Kebanyakan orang modern akan membuka diri terhadap perubahan
dan pembaharuan teknologi yang ditawarkan dari waktu ke waktu, sedangkan ada
beberapa golongan yang menutup diri sehingga jauh tertinggal mengenali dunia. Tunggu,
memang dunia tidak bisa dipatok hanya dengan perubahan teknologi di era
generasi ini saja. Namun, semakin ke sini, saya semakin tidak yakin dengan
nilai klasik yang sebenarnya sudah ada sejak lahir.
Manusia seharusnya saling menghargai satu sama lain.
Ketika secara tidak sengaja teknologi dan kemudahan mobile yang mengikat kehidupan masa
kini, justru membuat kehidupan semakin kabur. Manusia lupa rasa menghargai satu
sama lain. Banyak berita viral yang
justru pihak utamanya tidak tahui berita tersebut. Banyak masyarakat diam
menanggapi isu-isu tidak masuk akal, banyaknya ketidaktahuan yang secara tidak
sengaja justru menimbulkan rasisme. Selain itu, banyak manusia yang dekat
tetapi terasa jauh. Seluruh komunikasi, sikap, dan tindakan dihitung dari
perilaku mobile seseorang.
Manusia memang hidup tanpa kabel yang membayangi penggunaan
energi mereka. Namun, semakin ke sini, segala kemudahan teknologi yang sifatnya
mobile membuat manusia tidak peka. Manusia
pura-pura tidak tahu, tidak peduli, acuh, tidak mau tahu, sungkan, dan
semena-mena. Padahal, dulu manusia selalu berusaha untuk melakukan segala hal
dengan bertatap muka atau turun tangan secara langsung. Manusia tidak manja,
bukan berarti tidak melek teknologi. Memilih
hidup di zaman yang bergelimang kemudahan, tidak perlu canggung. Sebagai manusia,
sudah kodratnya menjadi makhluk sosial yang membutuhkan dan menghargai satu
sama lain. Tidak mudah melakukan hal tersebut, tetapi akan jauh lebih mudah
jika kita berusaha untuk melihat hal-hal kecil yang berpotensi besar melahirkan
keegoisan manusia zaman sekarang.
Saya sering mendengar pendapat orang lain tentang suatu hal.
Kita bisa saja menyetujui pendapat tersebut. Namun, menyetujui bukan berarti
setuju begitu saja. Kadang kita hanya berusaha menghargai pendapat yang orang
lain katakan. Kadang kita juga berusaha mendampingi perasaan dan pendapat kita
dengan pandangan orang lain mengenai dunia mereka sendiri. Tidak semua pendapat
salah, tidak semua tindakan salah, kecuali kita hidup dan merasa bersalah. Sekali
lagi, teknologi bisa melahirkan manusia-manusia yang tidak peka, tumbuh dalam
keegoisan, keangkuhan, kerasisan, dan keterlenaan dalam duniawi.
Di era ini, manusia, manusia, dan manusia. Mereka semua akan
memiliki korelasi satu sama lain. Entah untuk tujuan apa, manusia adalah
makhluk yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Melalui opini ini, saya ingin
menyampaikan bahwa rasa toleransi dan menghargai satu sama lain, perlu
ditingkatkan lagi. Tidak semua orang harus menjadi saya, dan saya tidak harus
menjadi semua orang. Bijaklah menanggapi perkembangan ini, selagi masih muda,
terbukalah terhadap kondisi yang ada. Lalu…
Sekarang, dunia seharusya tidak membatasi kita, tetapi manusia harus bisa membatasi dirinya.
“I see humans, but not humanity”
#Beropini
astridyp
0 comments